Sabtu, 03 April 2010

TINJAUAN FILOSOFIS TENTANG KURIKULUM PENDIDIKAN

MAKALAH
F I L S A F A T P EN D I D I K A N
KURIKULUMM PENDIDIKAN
“DALAM TINJAUAN FILOSOFIS”
DOSEN PEMBIMBING
Nurhasanah, S.Ag, M.Fil


Disusun oleh
Nama : YUYUT WAHYUDI
N I M : 108264
EKSTENSI BAHASA INGGRIS
INSTITUTE AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN JAMBI
2010
DAFTAR ISI


Daftar Isi i
BAB I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Tujuan 1
BAB II Pembahasan 2
A. Pengertian Kurikulum 2
1. Kurikulum Humanistik 2
2. Kurikulum Rekonstruksi Sosial 3
3. Kurikulum Progressivisme 4
4. Kurikulum Essensialisme 5
B. Pengembangan kurikulum 3
BAB III Penutup 6
1. Kesimpulan 6
Daftar Pustaka 7



















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan berperan sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, sebab pendidikan berpengaruh langsung kepada kepribadian ummat manusia. Pendidikan sangat menentukan terhadap model manusia yang dihasilkannya. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan, mempunyai kedudukan sentral; menentukan kegiatan dan hasil pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat, didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kurikulum yang lemah akan mengahasilkan manusia yang lemah pula.
Pendidikan merupakan interaksi manusia pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi pendidik dan terdidik dalam pencapaian tujuan, bagimana isi, dan proses pendidikan memerlukan fondasi filosofis, agar interaksi melahirkan pengertian yang bijak dan perbuatan yang bijak pula. Untuk mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu dan berpengetahuan yang diperoleh melalui cara berfikir sistematis, logis dan mendalam, secara radikal, hingga keakar-akarnya. Upaya menggambarkan dan menyatakan suatu pemikiran yang sistematis dan komprehensif tentang suatu fenomena alam dan manusia disebut berfikir secara filosofis. Filsafat mencakup suatu kesatuan pemikiran manusia yang menyeluruh.
B Tujuan
Dilihat dari kedudukan atau peranan kurikulum sebagai Central of eduction yang menentukan dan menciptakan keluaran peserta didik yang berkrepibadian, diharapkan melalui makalah yang sederhana ini, yang membahas tentang pemikiran-pemikiran para filosofis yang telah banyak menyumbangkan ide-ide cemerlang mereka ataupun pandangannya tentang kurikulum pendidikan, bisa menjadi dasar untuk berpijak for the education untuk memilih dan menerapkannya agar lebih maju meninggalkan kebodohan.








BAB II
KURIKULUM PENDIDIKAN
DALAM TINJAUAN FILOSOFIS
A. Pengertian Kurikulum

Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latin, curriculum yang berarti bahan pengajaran. Kata kurikulum selanjutnya menjadi suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan pada sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crowand Crow yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pelajaran yang yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.

Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out-comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sedangkan menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik.

Hilda Taba (1962) berpendapat, kurikulum tidak hanya terletak pada pelaksanaanya, tetapi pada keluasan cakupannya, terutama pada isi, metode dan tujuannya, terutama tujuan jangka panjang, karena justru kurikulum terletak pada tujuannya yang umum dan jangka panjang itu, sedangkan imlementasinya yang sempit termasuk pada pengajaran, yang keduanya tidak bisa dipisahkan.
Para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils in the school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school. Kurikulum memiliki dua aspek, yakni sebagai rencana yang harus dijadikan pedoman pelaksanaan proses belajar mengajar, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
B. Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum memerlukan filosofi tertentu untuk sesuai dengan harapan masyarakat. Di bawah ini, ada beberapa kurikulum yang berdasarkan aliran-filsafat pendidikan.

1.Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistic dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistic, diantaranya adalah Neil (1977). Kurikulum humanistic didasarkan pada aliran pendidikan humanism atau pribadi. Aliran pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa peserta didik adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Peserta didik adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan, yang mempunyai potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.

Kurikulum humanistic merupakan kurikulum yang lebih mementingkan proses dari pada hasil. Pendidikan yang menggunakan kurikulum ini selalu mengedepankan peran siswa di sekolah. Dengan situasi seperti ini, anak diharapkan mampu mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Pendidikan dianggap sebagai proses yang dinamis serta merupakan upaya yang mampu mendorong siswa untuk bisa mengembangkan potensi dirinya.

Dalam proses penerapan di kelas, kurikulum humanistic menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan siswa. Guru harus bisa memberikan layanan yang membuat siswa merasa aman sehingga memperlancar proses belajar mengajar. Guru tidak perlu memaksakan segala sesuatu jika murid tidak menyukainya. Dengan rasa aman ini siswa akan lebih mudah menjalani proses pengembangan dirinya. Sasaran utama kurikulum jenis ini adalah bagaimana memaksimalkan perkembangan anak supaya menjadi manusia yang mandiri. Proses belajar yang baik adalah aktivitas yang mampu memberikan pengalaman yang bisa membantu siswa untuk mengembangkan potensinya.. Pengembangan pribadi yang utuh merupakan tujuan utama dari pendidikan.

Kurikulum humanistic mendorong aktualisasi diri pada individu siswa, mereka diizinkan untuk mengungkapkan perasaan, bertingkah laku, melakukan percobaan, membuat kekeliruan sehingga ia bisa menemukan siapa dia. Maslow berpendapat, kita bisa menemukan diri kita sendiri melalui pengalaman-pengalaman. Dengan pengalaman itu bisa menumbuhkan rasa cinta sehingga timbullah pemahaman. Kurikulum humanistic kurang tanggap terhadap masyarakat sebagai yang plural, dan lengah terhadap efek jangka panjang tentang program mereka.

2. Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum ini memiliki hubungan dengan kegiatan kemasyarakatan yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi. Kurikulum ini dikembangkan oleh aliran interaksional. Pakar di bidang ini berpendapat bahwa pendidikan merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk menumbuhkan adanya interaksi dan kerja sama. Interaksi di sini mempunyai makna yang lengkap, yaitu tidak hanya mencakup interaksi guru dan siswa tetapi juga interaksi antar siswa serta interaksi siswa dengan orang lain di sekitarnya dan juga dengan sumber belajarnya. Dengan interaksi ini akan terjadi kerja sama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi. Kurikulum ini menolong siswa untuk menyesesuaikan atau mencocokkan dengan masyarakat.

Brameld berpendapat, bahwa sekolah harus menolong individu unyuk mengembangkan dan mempelajari bagaimana individu bepartisitipasi didalam lingkungan social. Kurikulum rekontruksional mempertemukan pelajar dengan sejumlah gangguan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat dan semua umat manusia pada umumya. Misalnya, dengan memasukkan mata pelajaran ilmu ekonomi, estetika, maupun matematika. Kurikulum jenis ini tidak hanya focus pada buku dan laboratory, melainkan ikut terlibat langsung dengan pengalaman masyarakat.

3. Pandangan Kurikulum Progressivisme
Selain kemajuan atau progres, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Untuk itu filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat mempengaruhi anak belajar secara edukatif baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolal Progressvisme memandang kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur. Anak hendaknya dijadikan sebagai subyek pendidikan bukan sebagai obyek pendidikan. Untuk memenuhi keutuhan tersebut, maka filsafat progresivisme menghendaki jenis kurikulum yang bersifat luwes (fleksibel) dan terbuka. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.

Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi kelestarian hidupnya. Hidupnya bukan hanya untuk kelestarian pertumbuhan saja, akan tetapi juga untuk perkembangan pribadinya. Oleh karena itu manusia harus belajar dari pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu diperoleh sebagai akibat dari belajar. Anak didik yang belajar di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman dari lingkungan, di sekolah akan mendapatkan pengalaman-pengalaman itu yang nantinya dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan umum (masyarakat sekitar).

Progresivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit. Dengan adanya mata pelajaran yang terintegrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang secara fisik maupun psikis dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dengan berlandaskan sekolah sambil berbuat inilah praktek kerja dilaboratorium, di bengkel, di kebun (Iapangan) merupakan kegiatan belajar yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya learning by doing. Dalam hal ini, filsafat progresivisme ingin membentuk keluaran (out-put) yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah yang memiliki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.

4. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
Kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Herman Harrel Horne dalam bukunya mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.

Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
1. Kurikulum sebagai suatu ide, adalah kurikulum yang dihasilkan melalui pemikiran, teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, adalah sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide yang diwujudkan dalam bentuk dokumen, yang di dalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, dan dilakukan dalam bentuk praktek pembelajaran.
4. Kurikulum sebagai suatu hasil, merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan terdidik demi mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung.
Apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapakah pendidik dan terdidik, apa isi
pendidikan merupakan dan bagaimana proses interaksi yang pendidikan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa kurikulum merupakan dokumen perencanaan yang mencakup:
2. tujuan yang harus diraih;
3. isi dan pengalaman belajar yang harus diperoleh siswa;
4. strategi dan cara yang dapat dikembangkan;
5. evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi mengenai pencapaian tujuan; serta
6. penerapan dari isi dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.

Dengan demikian, pengembangan kurikulum meliputi penyusunan dokumen, implementasi dokumen serta evaluasi dokumen yang telah disusun





















DAFTAR PUSTAKA

• http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/07/tinjauan-filosofis-tentang-kurikulum.html

• http://zulharman79.wordpress.com/2007/08/04/evaluasi-kurikulum-pengertian-kepentingan-dan-masalah-yang-dihadapi/

• http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/08/pengertian-kurikulum/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar